Saturday 23 April 2011

Jumadil Awwal, Bulan Pelurusan Arah Kiblat dan Pejuang yang Teguh

Bulan Jumadil Awwal dikenang sejarah sebagai bulan yang penuh peristiwa mengharukan. Ada peristiwa penting yang terjadi di bulan Jumadil Awwal. Adapun tahun 2007 ini, tepatnya Hari Senin Kliwon, 28 Mei 2007, tanggal 11 Jumadil Awwal 1428 H, ditetapkan para ahli falak sebagai yaumu rashdil qiblah, yakni hari penetapan arah kiblat. Hari itu tepat pukul 16.18 WIB, matahari tengah berada tepat di arah Ka’bah, sehingga bayangan benda yang tegak lurus di daerah sekitarnya merepresentasikan arah kiblat yang benar.

Sesuai dengan perubahan rotasi bumi saat mengitarinya, posisi matahari tepat di atas Ka’bah terjadi dua kali dalam setahun. Selain tanggal 28 Mei 2007, hari penetapan arah kiblat juga terjadi kembali pada hari Senin Wage, 16 Juli 2007, 1 Rajab 1428 H, pukul 16.27 WIB.

Selain itu, bulan Jumadil Awwal juga penuh kisah mengharukan. Selain merupakan bulan kelahiran beberapa ulama dan awliya’ besar, seperti Imam Ghazali dan Imam Ali Zainal Abidin, bulan kelima dalam kalender Hijriyah ini juga menjadi saksi keteguhan seorang pejuang muslim sejati, Abdullah bin Zubair bin Al-‘Awwam, dan ibunya, Asma’ binti Abu Bakar Ash-Shiddiq. Tanggal 17 Jumadil Awwal adalah hari ketika Abdullah dihukum mati oleh Hajjaj bin Yusuf, salah seorang punggawa yang sangat terkenal kezhalimannya.

Tentang Asma’ binti Abu Bakar, sang bunda, catatan sejarah telah mengabadikan kisah-kisah keteguhan hatinya. Pada masa mudanya, ia adalah gadis yang mengantarkan bekal makanan ke Gua Tsur untuk ayahandanya, Abu Bakar Ash-Shiddiq ra., yang tengah menemani junjungannya, Rasulullah saw. dalam menempuh perjalanan hijrah ke Madinah. Gurat rona merah bergambar telapak tangan di pipinya juga mengisahkan kesetiaannya melindungi tempat persembunyian junjungannya di Gua Tsur meski Abu Jahal menginterogasinya dengan kekerasan.

Sedangkan mengenai putranya, Abdullah bin Zubair, diceritakan, beberapa tahun setelah Tragedi Karbala, pemerintah Bani Umayyah kembali membidik tokoh-tokoh muslim yang dianggap musuhnya. Sebelum wafatnya, Mu’awiyyah telah memberikan wejangan khusus tentang tiga tokoh yang dianggap potensial akan merongrong kewibawaan pemerintahannya.

“Ada tiga orang yang bisa menjadi pesaingmu,” kata Mu’awiyyah sebelum ajal menjemput nyawanya. “Husain bin Ali, Abdullah bin Zubair, dan Muhammad bin Abdurrahman. Mereka adalah orang-orang yang ucapannya akan didengar oleh kaum muslimin. Muhammad bisa diabaikan, karena ia terlalu sibuk memikirkan akhiratnya. Sedangkan Husain adalah seorang yang berhati teguh dan ikhlas. Jika ia memberontak dan kau berhasil mengalahkannya, ampunilah dia. Betapapun ia masih keluarga kita. Tapi berhati-hatilah terhadap Abdullah bin Zubair. Ia orang yang tak mengenal kompromi. Jika kau berhasil mengalahkannya, bunuhlah dia,” kata Mu’awiyyah kepada Yazid, penerus pemerintahannya.

Namun, Yazid tetaplah Yazid. Setelah pasukannya berhasil mengalahkan pengikut Sayyidina Husain, cucu sang Nabi itu pun tetap dibantai habis. Tak lama kemudian, Abdullah bin Zubair mulai dibidik melalui begundalnya yang bengis, Hajjaj bin Yusuf. Berbagai teror dilancarkan kepada cucu Abu Bakar Ash-Shiddiq itu, hingga Abdullah tak bisa menahan diri dan mengangkat senjata.

Kesempatan itu digunakan Hajjaj untuk mengerahkan pasukan dan menyerang Abdullah beserta pengikutnya yang tinggal di Kota Suci Makkah. Setelah pengepungan selama berhari-hari, pertempuran meletus di sekitar Masjidil Haram, yang dijadikan basis perlindungan terakhir oleh pengikut Abdullah bin Zubair. Tanpa memandang kesuciannya, pasukan Hajjaj melontarkan manjanik-manjanik (batu lontar) ke jantung masjid paling mulia itu, hingga sebagian dinding Ka’bah berlubang.

Setelah sebagian pengikutnya gugur, pengepungan yang ketat membuat beberapa pengikutnya yang lain mulai menyerah. Dengan gundah, Abdullah bin Zubair menghadap sang bunda, yang saat itu usianya sudah mendekati 100 tahun, sakit-sakitan dan hampir buta, untuk berkeluh kesah.

Abdullah berkata kepada ibunya, “Wahai ibu, orang-orang telah mengkhianatiku, bahkan juga istri dan anakku. Tidak ada yang tersisa, kecuali sedikit orang yang agaknya sudah tidak tahan untuk bisa bersabar lebih lama lagi. Sementara Hajjaj dan pasukannya menawarkan kesenangan apa saja, asal aku mau tunduk kepada mereka.”

Mendengar keluh kesah sang putra, Asma’ – mengalahkan rasa ibanya, demi menjaga harga diri – menjawab dengan tegas, “Demi Allahu, anakku, engkau lebih tahu tentang dirimu. Jika menurutmu engkau berada di jalan yang benar, teruskan langkahmu. Sahabat-sahabatmu pun telah banyak yang terbunuh karena mempertahankan kebenaran itu.”

Lanjut Asma’ lagi, “Janganlah sekali-kali engkau mau dipermainkan budak-budak Bani Umayyah. Jika engkau menginginkan dunia, engkau adalah seburuk-buruk hamba yang mencelakakan dirimu sendiri dan orang-orang yang berjihad bersamamu.”

Abdullah berkata lagi, “Demi Allah, aku pun berpendapat seperti itu, ibu! Hanya saja aku khawatir orang-orang Syam itu akan menyayat-nyayat dan menyalib tubuhku bila aku terbunuh.”

Sang ibu kembali menegaskan, “Anakku, sesungguhnya kambing tidak akan merasakan sakitnya dikuliti lagi setelah disembelih. Teruskan langkahmu, dan mintalah pertolongan kepada Allah.”

Ketika keduanya berpelukan mengucapkan selamat berpisah, tangan sang bunda menyentuh baju besi yang dipakai Abdullah. Asma’ pun berkata, “Apa-apaan ini, Abdullah? Orang yang memakai ini adalah orang yang menginginkan sesuatu yang tidak engkau inginkan!”

Abdullah segera melepas baju besinya dan keluar untuk berperang dengan gagah berani. Usia Abdullah yang tak lagi muda membuatnya hanya bertahan beberapa saat sebelum akhirnya terbunuh.

Hajjaj lalu memerintahkan agar jenazah Abdullah bin Zubair disalib tinggi di sisi Ka’bah dengan harapan ibunya akan melihatnya sehingga hatinya akan melemah dan tunduk kepada pemerintah. Namun tak seperti yang diharapkan Hajjaj, ketika ibunda Abdullah bin Zubair thawaf dan melihat jasad anaknya tergantung tinggi, ia justru tersenyum dan berkata, “Aku bangga padamu, anakku. Ketika hidup, engkau lebih tinggi dari orang-orang di sekitarmu. Ketika mati pun engkau tetap lebih tinggi dari orang-orang di sekitarmu.”

Dalam riwayat lain disebutkan, Hajjaj berkata kepada Asma’ dengan angkuh, “Bagaimana pendapatmu tentang apa yang kuperbuat terhadap anakmu, wahai Asma’?”

Dengan datar Asma’ menjawab, “Engkau telah memporakporandakan dunianya, sedang dia telah memporakporandakan akhiratmu.”

Abdullah bin Zubair gugur pada 17 Jumadil Awwal 73 H, dan beberapa hari kemudian sang ibu menyusulnya berpulang ke rahmatullah. Meski wafat dalam usia hampir 100 tahun, jasad Asma’ masih terlihat cantik, dan tak ada satu pun giginya yang tanggal.

.

Sumber: Majalah ALKISAH No. 12 Tahun V, Almanak Halaman 126-128.

0 comments:

Post a Comment