Website Para Ustadz

Kumpulan website resmi para ustadz-ustadz terpercaya, Insha Allah.

Googling atau Yufiding?

www.yufid.com adalah islamic search engine, atau mesin pencari ilmu-ilmu islam.

Sunnah Witir diluar Ramadan

“Wahai orang-orang yang cinta kepada Al-Qur’an, shalat witirlah, karena sesungguhnya Allah itu ganjil yang menyenangi (shalat) yang ganjil.” (Shahih: Shahih Ibnu Majah)

7 Orang Sukses Kuliah sambil Ngaji

Sukses Dunia Akhirat, Why Not?

Waktu-Waktu Terkabulnya Do'a

Jika bekerja pun ada waktu-waktu yang tepat,begitu pula dengan Do'a

Tuesday, 20 November 2012

Biarkan Mereka ke Bulan, Mari Kita ke Surga


Segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurah bagi Muhammad Rasulillah, para sahabat dan pengikutnya.

Kerap dalam beberapa diskusi religi, nyata maupun maya, kita mendengar atau membaca dialog seperti ini:


A: Jadi akhi, berdasarkan dalil-dalil tersebut, para Ulama menyimpulkan bahwa memelihara jenggot hukumnya adalah wajib dan memangkasnya adakah haram. Begitu akh… 
B: Tapi Ulama lain ada yang membolehkan Akh… Syaikh Fulan pun potong jenggot… 
C: Sudahlah, orang kafir sudah sampai ke bulan, kita masih sibuk debat soal jenggot.

Dialog seperti ini kerap muncul dalam diskusi/debat masalah keagamaan lainnya, seperti masalah hukum isbal dan memelihara jenggot, jambang dan rambut di wajah bagi laki-laki, hukum musik dan sebagainya yang memang masih sering diperdebatkan oleh sebagian kalangan kaum muslimin. Yang menarik perhatian dari dialog tersebut dan menjadi topik bahasan dalam tulisan ini adalah perkataan pihak ketiga (C): “…sudahlah, orang kafir sudah sampai ke bulan, kita masih sibuk debat soal jenggot (isbal, dst…)“.
Saudaraku sekalian yang dirahmati Allah, mari kita cermati dengan baik perkataan di atas berdasarkan timbangan metodologi ilmiah dalam Islam.
Ke Bulan, Kedudukannya dalam Islam

Islam mendorong kita untuk menuntut ilmu-ilmu yang bermanfaat. Para ulama mengatakan, bahwa ilmu (yang Islam memotivasi untuk mempelajarinya -pen), terbagi menjadi dua:
(1) ilmu yang hukum mempelajarinya adalah fardhu ‘ain (wajib dipelajari oleh setiap individu muslim dan ia tidak boleh bodoh dalam ilmu ini –pen), karena setiap muslim memerlukan ilmu tersebut dalam masalah agama, akhirat dan muamalahnya; 
(2) ilmu yang hukum mempelajarinya fardhu kifayah, yaitu ilmu tambahan yang faedah mempelajarinya dibutuhkan orang banyak, walau tidak begitu mendesak bagi individu tertentu, sehingga jika sudah ada sejumlah orang yang mempelajarinya dan jumlahnya telah mencukupi kebutuhan, maka gugurlah kewajiban mempelajarinya bagi yang lainnya. 

Contoh ilmu yang fardhu ‘ain antara lain: ilmu akidah dan tauhid, juga ilmu tentang tata cara wudhu dan shalat yang benar. Setiap orang wajib mempelajari hal-hal tersebut. Karena ia tidak akan bisa berwudhu dan mengerjakan shalat dengan benar selain dengan mempelajari hal-hal mengenai hal tersebut. 

Contoh ilmu yang fardhu kifayah antara lain: ilmu kedokteran, ilmu perekonomian, ilmu pengelolaan air bersih dan energi (listrik, bahan bakar) dan sebagainya, yang memang faedah mempelajarinya dibutuhkan untuk kemashlahatan orang banyak.

Berdasarkan pembahasan tentang dua ilmu di atas, yang mempelajarinya memang diperintahkan dalam syari’at, lalu masuk dalam kategori manakah ilmu tentang cara mendarat di bulan? 

Yang pasti bukan fardhu ‘ain karena ilmu ini bukan penunjang agama, akhirat dan muamalah seorang muslim, bukan pula ilmu yang belajar dan pengamalannya akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. 

Kalau dikatakan fardhu kifayah, maka pendapat ini lemah dalam sisi urgensi, karena hidup manusia dapat terus berlangsung walau tidak ada yang pernah ke bulan. 
Bahkan, ke bulan dalam realitanya tidak lebih dari sekedar pertunjukkan kebanggaan negara kafir untuk mengkerdilkan kita (kaum muslimin) dan membuat kita selalu merasa ‘tertinggal’ atau ‘terbelakang’, lantas berupaya mengejar mereka hingga akhirnya kita melupakan kewajiban menuntut ilmu agama.

Sementara, bagaimanakah kedudukan pembahasan masalah halal haram atau wajib tidaknya sesuatu dalam Islam, seperti halal haram memotong jenggot dan isbal untuk laki-laki, halal haram musik dan seterusnya, meskipun dianggap remeh bagi sebagian kaum muslimin?

Merujuk pada definisi dua ilmu yang telah lewat, maka ilmu tentang masalah-masalah di atas termasuk kategori ilmu yang fardhu ‘ain (walau tingkat kewajibannya bisa jadi berbeda antara laki-laki dan perempuan). Hal ini dikarenakan masalah-masalah tersebut menjadi bahasan penting bagi Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, para sahabat dan para ulama (salafush sholih) setelah mereka. 
Benar salahnya penyikapan kita terhadap masalah di atas akan menunjang baik dan tidaknya agama, akhirat dan muamalah kita. Terlebih lagi, berbagai dalil Al-Qur’an dan hadits seputar masalah haramnya memotong jenggot dan isbal bagi laki-laki, haramnya musik dan sebagainya, kebanyakan mengandung ancaman neraka bagi pelanggarnya. Ini menunjukkan bahwa Islam menganggap penting masalah yang oleh sebagian kita dianggap tidak lebih penting daripada pencapaian orang kafir ke bulan. Yah, kecuali dalil-dalil tersebut tidak lagi penting dalam kehidupan kita di dunia.

Kalau begitu, pantaskah “ke bulan” yang bukan ilmu yang didorong Islam untuk mempelajarinya, dianggap lebih urgent daripada ilmu tentang jenggot, isbal, musik, yang merupakan ilmu yang fardhu ‘ain? Seremeh itukah ancaman neraka pada berbagai dalil yang Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebutkan tentang masalah-masalah tersebut untuk, ya sudahlah, tidak usah kita bahas dan sebaiknya ditinggalkan saja karena orang kafir sudah ke bulan, kita masih sibuk berdebat masalah itu?

Ke Bulan, Kedudukannya Bagi Orang Kafir

10 tahun lalu penulis pernah melihat di siaran salah satu TV nasional, film sains dokumenter yang dibuat oleh ilmuwan akademisi di US, yang membantah kebohongan klaim NASA bahwa mereka pernah mengirimkan manusia ke bulan. Dengan berbagai eksperimen dan analisis, baik terhadap kondisi alam untuk mencapai bulan, maupun terhadap video pendaratan ke bulan yang selama ini diklaim oleh NASA, mereka menyimpulkan bahwa sampainya NASA ke bulan hanya bohong belaka.
Kami melihat bahwa jargon “ke bulan” hanya sekedar kebanggaan orang kafir untuk membuat kaum muslimin ‘minder’, hingga akhirnya sibuk mengejar ‘prestasi ke bulan’ dan melupakan urgensi mempelajari agama Islam?
Allah Ta’ala berfirman,

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani sekali-kali tidak akan rela kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS. Al Baqarah: 120)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah bersabda,

"Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai-sampai bila mereka masuk ke liang dhabb (sejenis biawak padang pasir), niscaya kalian pun akan mengikuti mereka.” Kami berkata: “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Kalau bukan mereka lalu siapa lagi?”  (HR. Bukhari no. 3456 dan Muslim no. 2669, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)

Teman, mari bertanya, apakah kita pernah merasakan faedah nyata dari ‘orang kafir bisa ke bulan’? Apakah Anda yakin bahwa mereka yang berhasil ke bulan –seandainya nyata– akan tanpa pamrih membagi manfaatnya pada kita? Atau sebenarnya kita hanya dibuat merasa perlu mengejar jalan mereka?
Seandainya pun nyata, lebih berhargakah 'ke bulan' daripada mempelajari tauhid, shalat, perhitungan dan pembagian zakat dan warisan, puasa dan haji beserta masalah nawazilnya (masalah terkini), hukum seputar jual beli, bentuk-bentuk riba, muamalat kontemporer, dan cabang ilmu agama lainnya, seperti halal haram memotong jenggot dan isbal bagi laki-laki, halal haram musik, hingga layak dikatakan, "…sudahlah, itu tidak usah dibahas. Orang kafir sudah ke bulan, kita masih sibuk berdebat masalah itu"?
Akhirnya kami perlu mengatakan, toh kebanggaan kaum kafir semuanya akan berakhir kala datang hari kiamat.

Ke Bulan, Kedudukannya Bagi Si Penengah
Kami bersangka baik, bahwa bisa jadi si penengah dalam dialog yang kami ungkap di awal tulisan ini, hanya 'sekedar mencari contoh' kemajuan orang kafir yang belum bisa dicapai umat Islam –artinya tidak terbatas tentang ke bulan saja–, dan ia hanya 'sekedar ingin mengingatkan' agar kita tidak sibuk membahas masalah agama hingga melupakan ketertinggalan mereka dari orang kuffar.

Namun yang perlu disadari, syubhat yang timbul dari slogan "ke bulan" ini, manakala terpatri di benak sebagian orang, membentuk mindset bahwa mempelajari ilmu duniawi, seperti membuat inovasi baru dalam teknologi, di zaman ini lebih penting daripada mempelajari agama yang toh, topiknya bagi sebagian orang remeh pula, seperti masalah jenggot, isbal dan sebagainya.
Allahul musta'an, ini pun menjadi fenomena nyata di kalangan kita, kaum muslimin. Banyak di antara kita yang menghabiskan umur untuk mempelajari sains dan teknologi, namun 'kosong' dalam ilmu agama. Banyak dari kita yang bergelar master, doktor, bahkan profesor, namun belum benar cara berwudhu dan shalatnya. Cabang-cabang ilmu tentang aqidah, ibadah, muamalah, terlebih lagi ilmu alatnya, seperti qawaid bahasa Arab, ilmu ushul fiqh, ilmu musthalah al-hadits, dan lainnya seakan hanya monopoli orang-orang yang mau 'jadi ustadz' dan tidak untuk scientist (ilmuwan). Ya, mungkin karena sebagian kita memang sibuk juga mengejar ‘sampai ke bulan’.

Beragama yang Ilmiah
Kebanyakan perkataan di atas kami temui pada kalangan kaum muslimin yang belum mampu berargumentasi ilmiah yang ditunjang dengan ilmu yang benar. Bisa jadi karena orangnya enggan mempelajarinya, dan bisa jadi karena belajar dengan/dari manhaj (metodologi beragama) yang memang tidak menekankan pemahaman terhadap ilmu-ilmu alat (bahasa Arab, qowa’id, ushul, dan lainnya) sehingga tidak mampu berargumentasi dengan hujjah yang kuat. Akhirnya, ‘ke bulan’ menjadi andalan untuk menghindari diskusi yang seharusnya bisa ilmiah.

Dari sini, kami menghimbau kepada seluruh kaum muslimin, untuk bersungguh-sungguh menuntut ilmu agama dengan baik, dengan/dari manhaj yang lurus. Manhaj yang lurus adalah yang membawa kepada pemahaman agama yang benar ditunjang dengan ilmu-ilmu alatnya. Manhaj yang ketika berbicara suatu masalah agama, tidak lepas dari nukilan nash Al-Qur’an dan hadits.

Terakhir, kami kutip perkataan yang baik, “Wahai para pemuda, jangan sia-siakan waktu Anda untuk terkesima dengan beragama dengan cara haroki. Terkesan indah namun tidak asli. Terkesan aktual dan popular namun tidak hakiki. Terkesan modern dan hebat namun tidak lestari. Seperti mainan anak-anak kecil di masanya, akan lenyap dengan cepat diganti oleh gaya dan trend yang lebih gokil dan terkini[4].”
Fawaid
1- Ilmu agama adalah bekal kebahagiaan bagi manusia dalam kehidupannya di dunia dan akhirat. Seremeh apapun topiknya bagi sebagian orang, mempelajarinya tetaplah merupakan kewajiban bagi umat Islam. Keutamaan dan pahala mempelajarinya tidak akan setara dibandingkan dengan ‘sekedar ke bulan’ ataupun ilmu sains lainnya.
2- Jargon-jargon kemajuan kaum kafir kebanyakan hanya untuk mengkerdilkan kaum muslimin. Berusaha mengejar mereka dengan menghabiskan umur tanpa mempelajari agama tidaklah mendatangkan kemuliaan di sisi Allah ‘azza wa jalla.
3- Kebaikan kaum muslimin tidaklah terletak pada kemajuan teknologi yang mampu mereka ciptakan. Kebaikan mereka terletak pada ilmu agama dan penerapannya dalam kehidupan hari-hari mereka, dengan mencontoh pengamalan generasi pendahulu mereka dalam Islam. Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata,

”Yang bisa memperbaiki keadaan generasi akhir umat ini hanyalah hal yang telah berhasil memperbaiki keadaan genarasi awalnya”.
Semoga Allah menjadikan tulisan ini sebagai sarana dakwah yang ikhlas untuk agama-Nya dan menjadi nasehat yang dapat diterima oleh saudara-saudara kami yang membacanya.


Penulis: Muflih Safitra bin Muhammad Saad Aly
Dari artikel Biarkan Mereka ke Bulan, Mari Kita ke Surga — Muslim.Or.Id 

Friday, 2 November 2012

Aplikasi Radio Islam (Android)



Setelah beberapa bulan blog ini tidak update, kali ini kami akan memberikan topik baru pada Blog Amanah, yaitu Islam-Tech, yaitu berbagai macam Teknologi yang memudahkan para Penutut Ilmu dalam mendalami Islam secara kaffah.Pada posting yang lalu kita sudah membahas tentang Gadget Hijri Kalender untuk Windows 7, maka kali ini kita akan membahas aplikasi pada SmartPhone platform Android.

Radio Dakwah Islam & Rodja Player
Jika kegemaran Anda adalah mendengarkan radio secara streaming, tidak ada salahnya Anda mencoba hal baru dalam mendengarkan radio streaming dengan nuansa berbeda dengan aplikasi radio streaming bernama Rodja Player dan Radio Dakwah Islam. Berbeda dengan radio streaming yang ada di Market Place Android, dua aplikasi  ini membawa nuansa keislaman yang kental di dalam setiap siaran streaming.

Memang keberadaan aplikasi ini, dikhususkan bagi Anda pecinta dakwah-dakwah Islamiah yang berdasarkan Sunnah Salafus Shalih. Dari sekian banyak aplikasi streaming radio yang ada, jarang sekali ditemukan radio streaming yang menyajikan konten utama dakwah Islamiah. Dengan adanya aplikasi radio ini, Anda bisa mempergunakannya sebagai alternatif lain di kala Anda bosan dengan streaming konten yang itu-itu saja.

Kedua Aplikasi radio ini dilengkapi beberapa fitur yang bagus, di antaranya adalah fitur perekaman kajian dakwah yang sedang Anda dengarkan. Jadi Anda tidak perlu repot-repot menyediakan alat record khusus untuk merekam setiap streaming yang sedang didengarkan. Tinggal pencet tombol record, maka secara otomatis aplikasi RodjaPlayer ini akan merekam setiap pembicaraan dari narasumber yang hadir mengisi streaming radio tersebut.

Pada aplikasi Rodja Player juga ada fitur tanya jawab atau biasa dikenal dengan Questions On Live. Fitur ini berguna sekali apabila Anda mengalami kesulitan dalam mencerna setiap kajian yang sedang diperdengarkan. Jika Anda mengalami kesulitan, Anda bisa langsung menanyakan melalui media telepon atau SMS kepada narasumber yang sedang mengisi radio streaming tersebut. Jadi, hubungan timbal balik yang terjadi dapat terlaksana dengan baik. Sisi narasumber dapat memaparkan dengan baik dan kelas, tetapi dilain sisi Anda sebagai pendengar juga dapat mengerti setiap pembicaraan kajian yang diperdengarkan.

Dan pada aplikasi Radio Dakwah Islam terdapat fitur untuk memilih siaran yang ingin kita dengarkan terdapat 26 siaran radio yang dapat dipilih.(Radio Rodja-Bogor, Radio Muslim-Yogyakarta, Radio Al Iman-Surabaya, Radio Hangfm-Batam, Radio Assunnah-Cirebon, Radio Hidayah-Pekan Baru Riau,Radio Suara Quran-Solo, Radio Kita-Madiun,Radio BASS-Salatiga,Radio Nurussunnah-Semarang,Radio Arroyyan-Gresik,Streaming Kajian Medan, Miraath,Radio Suara Qur'an Lombok, Radio Suara Ibnul Qoyyim, Radio Mu'adz Kendari, Radio Rodja Bandung, Islamic Centre Bin Baz Yogyakarta, mp3 Quran, Darel Iman, An Najiyah, Idzaatul Khoir, Al Hikmah, Gema Madinah)

Ada satu lagi yang menarik yaitu fitur informasi jumlah listener. Fitur ini berguna untuk melihat kondisi jumlah pendengar pada saat dilakukan streaming kajian dakwah tersebut. Anda bisa melihat berapa orang yang sedang ikut mendegarkan kajian dakwah tersebut selain.

Bagi para Thalabul Ilmi yang memiliki SmartPhone Android, aplikasi ini wajib dimiliki guna memanfaatkan waktu luang dan menambah wawasan Islamiah. Untuk mendownload aplikasi bisa di download di Google Play Store
Radio Dakwah Islam https://play.google.com/store/apps/details?id=info.mauladi.radiodakwahislam

dari artikel portal.paseban.com dengan penambahan

Friday, 28 September 2012

Sudahkah Anda Menerapkan Kalender Hijriyah ?


Ingatkah ketika kecil dahulu kita pernah menghafalkan nama-nama bulan dalam perhitungan tahun Hijriyah? Dalam masa itu, kuat daya ingat kita sehingga dengan fasih kita melontarkannya ketika diminta untuk menyebutkan.
Muharram, Shafar, Rabi'ul Awal, Rabi'ul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya'ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqo'dah, dan Dzulhijjah. Semuanya lengkap terjawab beserta urutannya yang sesuai. Namun kini, cobalah kita bertanya kepada beberapa orang yang ada di sekitar kita—berapakah yang menjawab sempurna? Atau pertanyaannya, berapakah orang yang menggeleng tanda tak tahu?
Sebagian besar mungkin akan mengernyitkan dahi: Apa pentingnya? Toh umat juga sudah terbiasa menerapkan kalender Masehi dalam segala kepentingan sehari-hari. Meskipun saya masih dapat menyebutkannya tapi kan tetap tak terpakai? Begitulah respon bagi mereka yang sempat melemparkan hujjahnya.
Secara fakta, memang benar demikian. Coba perhatikan, mulai dari lembaga perbankan, lembaga pendidikan, lembaga pemerintahan, hingga perniagaan—semuanya memang benar menerapkan sistem penanggalan Masehi dan hal itu telah lama berlaku bagi seluruh dunia. Tapi pernahkah kita memikirkan mengapakah hal itu bisa terjadi? Bahwa sistem yang diakui adalah sistem yang dibuat oleh orang di luar Islam. Coba camkan sejenak—betapa hebatnya sistem tersebut hingga seluruh dunia patuh mempraktekkannya dalam setiap lini lifetime mereka…
Wahai ikhwan, sesungguhnya sistem itu adalah sesuatu yang sengaja untuk dibuat,dan setiap sistem yang dibuat memiliki visi dan misi, tentu saja karena sistem dibuat oleh kaum kafir maka sudah jelas tujuannya  untuk memalingkan umat Islam dari syariah Islam dan menggantikannya dengan syariah jahiliayah. Sistem itu begitu lumrah karena diperaktikkan disemua lini kehidupan. Sebagai umat Islam yang cita Islam, coba flashback lagi ke masa kecil, bukankah tugas kita hanya menghafal nama-nama bulan Hijriyah dan tidak dibiasakan untuk menggunakannya?
Begitu pun apa yang terdapat di dinding-dinding rumah kita, setiap tahun berganti—kalender Masehi kembali lagi. Beberapa waktu lalu, pernah seseorang membagi-bagikan secara cuma-cuma kalender Hijriyyah, tapi respon yang didapat tak sebagus tujuan dakwah yang ingin dicapai. Mereka yang diberi malah melontarkan keluhan yang beragam, diantaranya, "Wah, terimakasih, ya. Tapi kayaknya saya nggak ngerti cara melihat tanggalnya, tuh!", "Aduh, di rumah saya—kalender seperti ini nggak kepake, mas. Soalnya, malah bikin pusing…", bahkan ada yang terang-terangan menolak dengan mengatakan, "Ada yang kalender Masehi aja, nggak? Kalau ini bikin bingung karena ada tulisan Arabnya segala…" Keadaan lain pernah saya temukan di beberapa rumah yang pemiliknya muslim, kalender Hijriyyah memang terdapat disana tapi lembaran bulannya masih menunjukkan beberapa bulan yang telah lewat—itu artinya ia dibiarkan tak terperhatikan. Atau di tempat yang berbeda malah tertutupi kalender Masehi. Yang sangat jelas, ia tak sepopuler karya cipta kaum kafir itu.
Untuk diketahui, tahun Hijriyyah mulai diterapkan oleh Umar bin Khattab di masa kepemimpinannya yaitu tahun 13-23 Hijriyyah. Beliau memprakarsai penetapan perhitungan tahun yang didasarkan kepada peredaran bulan, sehingga terdapatlah dua pembagian jumlah hari dalam setiap bulannya yaitu bulan ganjil dan bulan genap. Sementara sahabat yang memiliki gagasan untuk memilih momentum hijrah sebagai landasan dalam membuat penanggalan Islam tersebut adalah Ali bin Abi Thalib. Kalau saja, penamaan sistem penanggalan tersebut diarahkan kepada masa pemerintahan yang sedang berkuasa saat itu, bisa saja dinamakan Tahun Khalifah Umar. Seperti tahun Masehi yang diambil dari gelaran nabi Isa bin Maryam yang dipertuhan oleh umat Nasrani atau seperti tahun Saka di Jawa yang diperoleh dari nama seorang rajanya yang bernama Aji Saka. Hal ini merupakan pertanda juga bahwa Islam mengajarkan untuk tidak ghuluw atau berlebih-lebihan pada sesuatu yang bersifat pengkultusan terhadap seseorang dan menutup celah yang bisa mendatangkan kemusyrikan.
Hijrah Rasulullah beserta kaum Muhajirin dari bumi Mekkah ke Madinah merupakan momentum sejarah yang teramat penting bagi perkembangan Islam selanjutnya. Terlebih setelah peristiwa eksodus tersebut kemajuan dunia Islam bisa mencapai kejayaannya, sehingga hal inilah yang menjadi pondasi yang tepat bagi penamaan tahun Islam.
 Berkaitan dengan bulan-bulan Islam, Allah Ta'ala dalam firman-Nya yang berbunyi;
Artinya, "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah duabelas bulan dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa." (QS. at-Taubah, 9:36)
Empat bulan haram yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.  Allah memasukkan keempat bulan itu dalam kelompok bulan-bulan haram dikarenakan pada bulan tersebut terdapat pelarangan untuk berperang, membunuh, dan melakukan perbuatan maksiat lainnya, bukanlah pula berarti perbuatan maksiat  boleh dilakukan di luar ke-empat bulan itu, akan tetapi ganjaran dosa yang diancamkan jauh lebih besar.
Kembali kepada sistem yang digunakan dalam perhitungan tahun Hijriyyah yaitu didasarkan pada peredaran bulan. Menurut peredaran bulan, jumlah hari-hari dalam satu tahun terdapat 354,36705 hari dibagi 12 bulan sehingga menjadi sekitar 29,530588 hari. Dari perhitungan tersebut maka terbentuklah bulan genap dan bulan ganjil. Dalam sebuah hadits periwayatan Imam Bukhari, Rasulullah bersabda yang artinya, "Bershaumlah dan berbukalah karena melihat bulan. Jika keadaan tertutup mendung sehingga tak dapat melihatnya maka sempurnakanlah Sya'ban menjadi 30 hari." Keadaan yang disebutkan pada hadits tersebut yaitu menunjukkan bulan yang tak sempurna adalah yang terdiri dari 29 hari dan bulan yang sempurna adalah yang 30 hari.
Fatwa al-Lajnah ad-Da'imah lil buhutsil ‘ilmiyyah wal ifta' yaitu Komisi Tetap untuk pembahasan ilmiah dan fatwa kerajaan Saudi Arabia telah mengeluarkan fatwa no. 2072 tentang hukum menggunakan kalender Masehi yaitu tidak boleh bagi kaum muslimin menggunakan kalender Masehi karena sesungguhnya hal tersebut merupakan tasyabbuh kepada orang-orang Nashara dan hal itu termasuk kepada syi'ar agama mereka. Dan kaum Muslimin diharamkan mengikuti syi'ar orang-orang kafir. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam  Ahmad tentang larangan keras mengikuti syi'ar orang kafir. Dari Abu Munib,dari Ibnu Umar R.A, dia menceriterakan, Rasulullah saw bersabda: "Aku diutus menjelang kiamat dengan membawa pedang sehingga hanya Allah saja diibadati yang tiada sekutu bagi Nya. Rezkiku dijadikan dibawah naungan tombakku. Kehinaan dan kerendahan dijadikan kepada orang-orang yang menentang perintahku. Dan barang siapa menyerupai suatu kaum,maka dia termasuk golongan mereka".
Dari penjelasan dan keterangan hadits ini sepatutnya  kaum Muslim segera beralih kepada Kalender Islam, kita saksikan ditahun baru masehi yang baru saja berlalu, kita saksikan banyak orang Islam bergembira dengan tahun baru dan ikut pula merayakannya,sadarkah mereka tahun barau apa ini? Kalender apa yang dipakai selama ini, bukankah kita mempunyai kalender hijrah, mengapa kita  mengabaikannhya? Cinta Islam harus ditumbuh suburkan,Izzah Islam harus dikobarkan, umat Islam hanya bisa mulia kembali jika kita semua kembali menghidupkan nilai-nilai sejarah  dalam keluarga dan masyarakat kita. Otak yang telah dikotori oleh materialisme, sekularisme, pluralisme, liberalisme (sepilis), hedonisme harus segera dicuci ulang dengan Islam. Adakah kalender islam dirumah anda?
Ketahuilah bahwa Islam itu bersifat totalitas, pun termasuk dalam sistem penanggalan karena hal tersebut yang telah dicontohkan oleh para sahabat Rasulullah saw. Sementara Rasulullah sendiri menyatakan dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa barangsiapa berusaha menyerupai suatu kaum maka ia masuk dalam golongan kaum tersebut. Beliau selalu menyelisihi apa-apa yang menjadi ciri umat dari luar Islam, oleh karena itu bagi kita sebagai umatnya, mari selisihi syi'ar-syi'ar mereka dan mari mulai sekarang. Wallahu ‘alam bishawwab. (Ghomidiyah)