Website Para Ustadz

Kumpulan website resmi para ustadz-ustadz terpercaya, Insha Allah.

Googling atau Yufiding?

www.yufid.com adalah islamic search engine, atau mesin pencari ilmu-ilmu islam.

Sunnah Witir diluar Ramadan

“Wahai orang-orang yang cinta kepada Al-Qur’an, shalat witirlah, karena sesungguhnya Allah itu ganjil yang menyenangi (shalat) yang ganjil.” (Shahih: Shahih Ibnu Majah)

7 Orang Sukses Kuliah sambil Ngaji

Sukses Dunia Akhirat, Why Not?

Waktu-Waktu Terkabulnya Do'a

Jika bekerja pun ada waktu-waktu yang tepat,begitu pula dengan Do'a

Tuesday, 19 June 2012

Beda Islam dengan Demokrasi


Bisakah Islam bertemu dengan demokrasi barat?  Apakah mereka sejalan? Atau apakah demokrasi barat mengambil konsep dari Islam? Atau sebaliknya Islam mengambil nilai nilai demokrasi yang telah berkembang di Yunani? Atau konsep nilai Islam telahberubah karena zaman sudah berubah pula, dan karena saat ini penduduk duniasemakin banyak hingga dibutuhkanlah sebuah sistem yang berguna untuk menyederhanakan dalam sistem pemerintahan, makanya kaum muslim bersedia menerima konsep demokrasi barat sebagai jalan keluar yang modern?
Ada satu pertanyaan yang membuat berfikir berkali kali bagipenulis, kenapa barat (Amerika dan sekutunya) selalu mengirimkan pasukanperangnya bila ada suatu negara menolak sistem demokrasi barat? Dan kenapaamerika dan sekutunya tidak merasa perlu  mengirimkan pasukan senjata perangnya bilasuatu negara muslim sudah mengadopsi sistem demokrasi barat dalampemerintahannya? Apakah demokrasi itu merupakan cara hidup kaum barat? Dan bilaada Negara muslim memakai sistem tersebut , kaum barat sudah merasakan negaramuslim demokrasi tersebut sudah satu millah / din yang sama dengan mereka? Jaditidak perlu berperang?
Beribu ribu pertanyaan yang terngiang.
Berikut disampaikan beberapa analisis pemikir Islam, semogahal hal tersebut terurai sedikit demi sedikit kenapa kita harus selalu memegang harta termahal kita yaitu Islam.
Abul Ala Maududi dalam bukunya Human Right in Islam,terbitan The Islamic Foundation, London, menjelaskan perbedaan mendasar antarkeduanya, Islam dan demokrasi barat. Dan ternyata tidak terdapat irisan dan titiksinggung antar kedua sistem tersebut.
Singkatnya, tidak ada penyandingan yang layak antar kedua sistemtersebut, tidak ada Islam demokrasi.
Demokrasi barat didasarkan atas kedaulatan rakyat . SedangIslam , kedaulatan hanya ada di tangan Allah, dan manusia /masyarakat hanyalahkhalifah khalifah atau wakil wakilnya.
Demokrasi barat , masyarakatlah yang membuat hukum hukummereka sendiri. Sedang Islam, masyarakatnya harus tunduk pada hukum hukum Allah(syariat Allah) yang diberikanNya melalui rasulNya.
Demokrasi barat , pemerintah memenuhi apapun kehendak rakyat.Sedang Islam , pemerintah dan rakyat yang membentuk pemerintahan, kedua duanyaharus memenuhi kehendak dan tujuan Allah.
Demokrasi Barat adalah semacam wewenang mutlak yangmenjalankan kekuasaan kekuasaannya dengan cara bebas dan tidak terkontrol .Sedang Islam,  adalah kepatuhan kepadahukum Allah, dan melaksanakan wewenangnya sesuai dengan perintah perintah Allahdan dalam batas batas yang telah digariskan oleh Nya.
Sebagai melengkapi pemahaman demokrasi barat, menurutMuhammad Assad, dalam bukunya Minhaj Al Islam fi al Hukumi, konsep demokrasiasli yang dimiliki oleh bangsa yunani, Negara penemu sistem demokrasi berawal.Bagi bangsa  yunani (kuno), istilahpemerintahan dari rakyat untuk rakyat , yang merupakan inti dari demokrasi,dimaksudkan sebagai suatu pemerintahan oligarchis , suatu pemerintahan yangdipegang oleh elite tertentu yang tidak mencakup seluruh rakyat. Di dalamnegara negara yang pernah ada pada masa mereka, istilah rakyat berarti warga negara sejati yang merupakan penduduk yang dilahirkan secara merdeka yang lazimnya jumlahnya tidak lebih dari seper-sepuluh jumlah penduduk yang ada. Sedangkansisanya  yang Sembilan puluh persen ituterdiri dari budak budak dan hamba sahaya yang tidak diberi kesempatanmelakukan aktifitas apapun selain pekerjaan pekerjaan fisik yang kasar, danmereka , sekalipun tetap diwajibkan berpartisipasi dalam pertahanan negara,sama sekali tidak diberi hak dalam hal kewarga negaraan. Hanya warga negarasejati itu (yang hanya 10%) sajalah yang memegang hak kebebasan aktif maupunpasif, yang dengan demikian seluruh kekuasaan politik berpusat sepenuhnya ditangan mereka.
Sebuah sistem yang katanya menuntut persamaan , hak asasimanusia , tapi nyatanya persamaan dan hak asasi manusia itu semu dan hanyaberlaku bagi warga negara khusus antara mereka saja. Sistem  yang berlaku bila hanya kelompok yang mereka setujuisaja yang memenangi pemilihan umum, dan tidak berlaku bila kelompok Islam yangmemenangi pemilihan rakyat , lihatlah FIS di Aljazair, Lihatlah Hamas dipalestina…Sistem demokrasi adalah sebuah sistem jadi jadian mereka, jebakanpolitik, sistem yang menuruti sekehendak hawa nafsu dan syahwat kelompokborjuis saja, dan tidak berlaku bagi yang mereka anggap sebagai musuh bersama mereka.
Semoga keterangan ini menjadi jelas adanya, dan di saat kehidupanakhir zaman ini, kedua sistem tersebut mengemuka dan menjadi pilihan bagi umat,nah sekarang kembali kepada anda, dalam kedua sistem tersebut, kembali ke andasebagai manusia dan hamba Allah, yang kelak semua hal yang kita lakukan diduniaini akan diminta pertanggung jawaban di akherat kelak, so , mana yang anda yakini dan berniat berusaha untuk meninggikannya? (MM)

Friday, 1 June 2012

Memperingati 67 Tahun Kegagalan Pancasila

Selamanya ideologi yang sifatnya “man made” (buatan manusia) tak bakal dapat memberikan apa-apa bagi manusia. Meyakini ideologi “man made”, sama dengan meyakini kepalsuan dan kebohongan.

Mayakini ideologi “man made”, hanyalah membuat manusia terperosok kepada kontradiksi. Hakikatnya manusia pasti memiliki “limitasi” keterbatasan, siapapun manusia. Tidak ada yang sempurna.

Secara empirik ideologi sifatnya "man made" itu sudah menunjukkan kegagalan. Di abad 21 ini sudah menjadi lonceng kematian ideologi-ideologi buatan manusia. Abad ini sudah menunjukkan adanya, apa yang disebut dengan, “the end of ideology”, yang dibuat manusia.

Secara empirik pula ideologi buatan manusia, hanya melahirkan perang, konflik, kekacauan sosial, dan polarisasi yang sangat keras. Ideologi-ideologi “man made” itu tidak dapat memberikan solusi apapun, bagi kehidupan manusia. Betatapun ideologi “man made” sudah sangat ilmiah, sebagai sebuah teori, tetapi faktanya tetap saja tak mampu menjadi sebuah solusi.

Di abad modern lahir ideologi yang sifatnya “man made”,  dan banyak diikuti manusia. Manusia terjerumus ke dalam polarisasi ke dalam kotak-kotak ideologi, yang seakan-akan bisa memuaskan dan memberikan solusi bagi kehidupan mereka. Ternyata mereka tertipu belaka. Mereka berbondong-bondong mengikuti ideologi “man made”, dan dengan sangat fanatiknya mereka bersedia berbuat apa saja guna mewujudkan cita-cita ideologi “man made” itu.

Banyak manusia modern yang masuk terjerumus ke dalam“dinunnas” (agama bikinan manusia), yang sebenarnya tidak bisa memberikan apapun bagi manusia. Tetapi, manusia meyakininya sebagai sebua dogma, dan bahkan para penganjur “dinunnas” itu, menyuruh manusia menjadikan sebagai “way of life”. Inilah yang menyebabkan terjadinya kontradiksi dalam kehidupan manusia.

Betapapun para penganjur ideologi “man made” yang sudah menjadi “dinunnas” itu, seperti Marxisme, Komunisme, Sosialisme, Kapitalisme, dan termasuk Pancasila, sebagai sebuah teori dogma, sudah menunjukkan kegagalannya menyelamatkan hari depan manusia. Betapapun sebagian manusia meyakini dogma itu, tetapi secara emperik sudah menunjukkan dan membuktikan mereka sudah gagal.

Komunisme dan Kapitalisme sebagai teori sudah gagal,  dan hanya mencampakan manusia ke dalam era “Perang Dingin” dengan segala akibatnya. Bagaimana umat manusia dikelompokkan ke dalam blok Komunis (Soviet) dengan blok Kapitalis (Barat), dan kemudian diikuti dengan kehancuran blok Komunis (Soviet), dan membawa akibat dan dampak yang sangat luar  biasa bagi kehidupan manusia. Terutama terjadinya perang dingin, dan sebagian manusia terperangkap ke dalam blok  Komunis dan Kapitalis, yang keduanya telah menghancurkan kehidupan.

Francis Fukuyama, ilmuwan Amerika Serikat, yang menegaskan berakhirnya Komunisme dan Soviet, menandai kemenangan Kapitalisme dan Liberalisme, serta Demokrasi. Kemenangan dan supremasi bangsa Barat atas Soviet, yang menganut Komunisme.

Tetapi, sekarang sejak jatuhnya Soviet, dan belum dua dekade, Kapitalisme sudah menunjukkan tanda-tanda keruntuhannya. Bahkan, para pakar politik Barat, menyatakan bahwa demokrasi yang merupakan anak kandung faham Liberalisme sudah menunjukkan kegagalannya dengan kehancuran Uni Eropa sekarang ini. Justru demokrasi telah membawa kekacauan yang mendalam atas negara-negara Uni Eropa.

Tanda-tanda kehancuran sistem Kapitalisme sudah di  depan mata, kalau yang menjadi indikatornya adalah ekonomi. Seluruh negara-negara Barat, sekarang menghadapi resesi yang menuju depresi ekonomi,yang sudah tidak mungkin dapat menyelamatkan ekonomi mereka. Pertumbuhan  ekonomi mereka “minus”, dan angka pengangguran terus membengkak. Semua ahli ekonomi atau ekonom sudah pesimis melihat situasi dan kondisi yang ada. Ini akibat komplikasi yang lahir dari ideologi “man made” itu.

 Di Wall Street, London, Paris, Roma, Athena, dan Berlin, rakyatnya sudah tidak sabar lagi dengan sistem yang selama sudah mapan, dan menjadi acuan dalam sistem politik dan ekonomi di negeri mereka.

Sistem idelogi “man made”, hanyalah melahirkan diskriminasi, polarisasi, dan disparitas (kesenjangan), antara yang kaya dengan miskin. Seperti yang diteriakkan para aktivis di Wall Street, di mana yang 1 persen menguasi hajat hidup yang 99 persen. Kaum buruh dan kelas pekerja hanya menjadi budak para pemilik modal, yang sebagian besar mereka para “baron” Yahudi.

Dan, sejatinya semua idelogi "man made" itu, hanyalah ciptaan para teoritikus Yahudi, yang memang bertujuan ingin menghancurkan kehidupan manusia. Mengkotak-kotakan manusia, membuat mereka konflik, saling membunuh, menghancurkan, dan mereka menjadi sangat lemah. Kemudian, kaum Yahudi menguasai seluruh kehidupan mereka. Itulah tujuan akhir dari ideologi "man made".

Di Indonesia, setiap 1 Juni diperangti sebagai hari lahirnya Pancasila, yang menjadi ideologi negara. Tetapi, ideologi Pancasila tidak pernah dipraktekkan secara nyata oleh para pemimpin Indonesia.

Mereka berteriak bahwa Pancasila itu sebagai: “harga mati”. Pancasila sebagai falsafah bangsa, sebagai “rulers of conduct”, dan bahkan pernah disebut sebagai : “way of life”, yang posisinya sejajar seperti agama. “Dinunnas” itu disejajarkan dengan “Dinullah”.

Soekarno yang menjadi penggagas dan pencetus Pancasila, tak pernah mempraktekkannya. Malah Soekarno menjadi pengikut Komunisme. Soekarno memeras ajaran Pancasila menjadi “Ekasila”, yaitu Gotong Royong, dan tak lebih sebuah idiom Komunis. Diujung akhir hidupnya sebagai penguasa, Soekarno  masuk ke dalam barisan Komunisme, yang  waktu itu ingin menegakkan ideologi kerakyatan.

Politik luar negeri Indonesia di bawah Soekarno anti Barat,  dan berkiblat ke Moskow dan Peking, dan membuktikan bahwa sejatinya Soekarno, tak lain menjadi satelit Moskow dan Peking. Jadi, Soekarno bukan seorang Pancasilais.

Di zaman Soeharto sama saja. Tak berbeda. Soeharto yang ingin menjadikan Pancasila sebagi “way of life”, tetapi Soeharto tak pernah mewujudkan Pancasila.

Soeharto adalah bagian dari kepentingan Barat, dan menjadi sekutu utama Barat. Karena itu, sejak Orde Baru, Soeharto sudah memposisikan dirinya sebagai “kacung”nya Barat. Ekonominya murni ekonomi Kapitalis, yang menjadi dasar kebijakannya.

Di era reformasi ini, sudah menjadi lebih jauh lagi, Indonesia masuk ke dalam jebakan Kapitalisme. Bukan hanya ekonomi, politik, semata. Tetapi, Kapitalisme sudah masuk ke sungsum-sungsum para penguasa dan rakyatnya.

Mereka sudah tidak ada  lagi peduli dengan Pancasila yang selama ini digembar-gemborkan. Ideologi “man made” itu sudah masuk kotak, ungkap tajuk Kompas (1/6/2012). Sikap penguasa dan rakyatnya sudah tidak ada lagi yang mengamalkan Pancasila, dan itu  sangat nampak dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Memang waktu itu,  Mohammad Natsir, Pemimpin Masyumi, berpidato di Konstituante, yang memperdebatkan tentang dasar negara, antara Islam dan Pancasila, di tahun l957, dan dengan kata yang  sangat jelas, Natsir mengatakan, bahwa Pancasila itu ideologi : "la diniyah" (sekuler). Kala itu, Partai PNI, PKI, Sosialis, Murba, dan Partai Katolik/Krisen mendukng Pancasila. Sedangkan, Partai Islam, seperti Masyumi, Syarikat Islam, NU, dan lainnya mendukung Islam sebagai dasar negara.

Sekarang, sesdudah Indonesia mengadobsi Ideologi Pancasila, perilaku para pemimpin dan rakyatnya, sudah menjadi pengikut materialisme global. Karena, Pancasila itu, juga ideologi sekuler.  Karena itu, kehidupan di Indonesia semakin kacau, dan penuh dengan kontradiksi. Tanpa solusi. Karena mereka menyakini sesuatu yang  bathil, dan tidak dapat memberikan apa-apa.

Sama  seperti zaman  jahiliyah di mana manusia kafir jahiliyah, menyembah patung Lata dan  Uza, yang tidak memberikan manfaat apapun bagi manusia. Tetapi, mereka meyakininya, dan terus menjadikannya sebagai sesembahan mereka. Tak pernah memberikan apapun Lata dan Uza bagi kehidupan manusia.

Maka hanya dengan Islam manusia dapat hidup dengan penuh berkah, dan jauh dari berbagai kesesatan, penyelewengan, kezaliman, kedurhakaan, dan kekufuran. Maka kembalilah ke jalan Islam, sebagai dinul-haq. Wallahu’alam.



Sunday, 20 May 2012

Hadis Lemah Tentang Puasa di Bulan Rajab

Lagi trend saat ini, sebagian kita mengirimkan pesan kepada saudara lainnya untuk mengajak berpuasa di bulan Rajab. Kita sudah ketahui bersama bahwa bulan Rajab adalah di antara bulan haram, artinya menunjukkan bulan yang mulia. Beramal sholih dan meninggalkan maksiat diperintahkan ketika itu. Namun bagaimana jika kita menjadikan puasa khusus yang hanya spesial di bulan Rajab? Apalagi ditambah dengan tidak adanya dalil pendukung atau dalilnya lemah (dho’if) bahkan palsu (maudhu’)? Tulisan kali ini akan sedikit memaparkan perkataan para ulama mengenai anjuran puasa di bulan Rajab.
Ada dalil yang berisi anjuran berpuasa di bulan haram dan bulan Rajab adalah di antara bulan haram. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ
Berpuasalah pada bulan haram dan tinggalkanlah.” (HR. Abu Daud no. 2428). Namun hadits ini didho’ifkan oleh Syaikh Al Albani dalam Dho’if Abu Daud. Taruhlah jika hadits tersebut shahih, itu berarti hadits tersebut menunjukkan keutamaan berpuasa pada bulan-bulan haram (Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab), bukan berpuasa pada bulan Rajab saja. Jika seseorang berpuasa pada bulan Rajab karena mengamalkan hadits di atas, seharusnya ia berpuasa pula pada bulan haram yang lain, maka seperti itu tidaklah masalah. Jika berpuasa khusus pada bulan Rajab saja, itulah yang masalah. Demikian keterangan dari Syaikh Sholih Al Munajjid dalam fatwa yang sama.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Adapun melakukan puasa khusus di bulan Rajab, maka sebenarnya itu semua berdasarkan hadits yang seluruhnya lemah (dho’if) bahkan  palsu (maudhu’). Para ulama tidaklah pernah menjadikan hadits-hadits ini sebagai sandaran. Bahkan hadits-hadits yang menjelaskan keutamaannya adalah hadits yang maudhu’(palsu) dan dusta. Dalam musnad dan selainnya disebutkan hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bahwa beliau memerintahkan untuk berpuasa pada bulan haram, yaitu Rajab, Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. Hadits ini menunjukkan puasa pada empat bulan tersebut seluruhnya, bukan hanya khusus di bulan Rajab.” (Majmu’ Al Fatawa, 25/290-291).
Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hadits yang menunjukkan keutamaan puasa Rajab secara khusus tidaklah shahih dari Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.” (Latho’if Al Ma’arif, hal. 213). Ibnu Rajab menjelaskan pula, “Sebagian salaf berpuasa pada bulan haram seluruhnya (bukan hanya pada bulan Rajab saja, pen). Sebagaimana hal ini dilakukan oleh Ibnu ‘Umar, Al Hasan Al Bashri, dan Abu Ishaq As Sabi’iy. Ats Tsauri berkata, “Bulan haram sangat kusuka berpuasa di dalamnya.” (Latho’if Al Ma’arif, hal. 214).
Ibnu Rajab kembali berkata, “Tidak dimakruhkan jika seseorang berpuasa Rajab namun disertai dengan puasa sunnah pada bulan lainnya. Demikian pendapat sebagian ulama Hambali. Seperti misalnya ia berpuasa Rajab disertai pula dengan puasa pada bulan haram lainnya. Atau bisa pula dia berpuasa Rajab disertai dengan puasa pada bulan Sya’ban. Sebagaimana telah disebutkan bahwa Ibnu ‘Umar dan ulama lainnya berpuasa pada bulan haram (bukan hanya bulan Rajab saja). Ditegaskan pula oleh Imam Ahmad bahwa siapa yang berpuasa penuh pada bulan Rajab, maka saja ia telah melakukan puasa dahr yang terlarang (yaitu berpuasa setahun penuh).” (Latho’if Al Ma’arif, hal. 215).
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Setiap hadits yang membicarakan puasa Rajab dan shalat pada sebagian malam (seperti shalat setelah Maghrib pada malam-malam pertama bulan Rajab, pen), itu berdasarkan hadits dusta.” (Al Manar Al Munif, hal. 49).
Penulis Fiqh Sunnah, Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah berkata, “Adapun puasa Rajab, maka ia tidak memiliki keutamaan dari bulan haram yang lain. Tidak ada hadits shahih yang menyebutkan keutamaan puasa Rajab secara khusus. Jika pun ada, maka hadits tersebut tidak bisa dijadikan dalil pendukung.” (Fiqh Sunnah, 1: 401).
Sebagaimana dinukil oleh Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah (1: 401), Ibnu Hajar Al Asqolani berkata, “Tidak ada dalil yang menunjukkan keutamaan puasa di bulan Rajab atau menjelaskan puasa tertentu di bulan tersebut. Begitu pula tidak ada dalil yang menganjurkan shalat malam secara khusus pada bulan Rajab. Artinya, tidak ada dalil shahih yang bisa jadi pendukung.”
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Puasa pada hari ke-27 dari bulan Rajab dan qiyamul lail (shalat malam) pada malam tersebut serta menjadikannya sebagai suatu kekhususan pada hari itu, hal ini berarti bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat.” (Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 20: 440).
Syaikh Sholih Al Munajjid hafizhohullah berkata, “Adapun mengkhususkan puasa pada bulan Rajab, maka tidak ada hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya atau menunjukkan anjuran puasa saat bulan Rajab. Yang dikerjakan oleh sebagian orang dengan mengkhususkan sebagian hari di bulan Rajab untuk puasa dengan keyakinan bahwa puasa saat itu memiliki keutamaan dari yang lainnya, maka tidak ada dalil yang mendukung hal tersebut.” (Fatwa Al Islam Sual wal Jawab no. 75394)
Jika ingin puasa di bulan Rajab karena ada kebiasaan seperti punya kebiasaan puasa daud, puasa senin kamis, puasa ayyamul bidh atau puasa tiga hari setiap bulannya, ini berarti tidak mengkhususkan bulan Rajab dengan puasa tertentu dan tidaklah masalah meneruskan kebiasaan baik seperti ini.
Ingatlah sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, janganlah membuat-buat amalan yang tanpa tuntunan.
Wallahu waliyyut taufiq.